Takalar,15menit.com – Pendidikan di Kabupaten Takalar menunjukkan perubahan signifikan dalam satu tahun terakhir. Dari posisi dua terbawah di Sulawesi Selatan dalam capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan, kini Takalar berhasil melonjak ke peringkat pertama dengan predikat Tuntas Madya.
Perubahan tersebut tidak terjadi secara instan. Transformasi ini berawal dari dorongan kuat pemerintah daerah agar kepala sekolah lebih memahami data pendidikan sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Kepala UPT SDN 166 Inpres Bontorita, Imran, mengungkapkan bahwa setahun lalu kondisi pendidikan Takalar cukup memprihatinkan.
“Dalam peta pendidikan Sulawesi Selatan, Takalar berada di posisi dua terbawah dalam capaian SPM. Bagi kami para kepala sekolah, itu bukan sekadar angka, tetapi cerminan sistem pendidikan yang belum berjalan optimal,” ujarnya.
Momentum perubahan terjadi ketika Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, mengumpulkan seluruh kepala sekolah dalam sebuah pertemuan khusus.
Dalam pertemuan tersebut, kepala sekolah diminta hadir tanpa membawa operator sekolah. Mereka diminta mempresentasikan langsung Rapor Pendidikan masing-masing sekolah.
Situasi itu menjadi momen refleksi bagi banyak kepala sekolah. Sebab tidak sedikit yang belum sepenuhnya memahami data pendidikan sekolahnya sendiri.
“Pesan Bupati sangat jelas: bagaimana mungkin sekolah bisa maju jika pemimpinnya sendiri tidak memahami data sekolahnya,” kata Imran.
Sejak saat itu, budaya kerja di lingkungan pendidikan Takalar mulai berubah. Kepala sekolah didorong untuk memahami indikator penting seperti literasi, numerasi, dan kualitas lingkungan belajar yang tercermin dalam Rapor Pendidikan.
Dinas Pendidikan bersama para pengawas kemudian memperkuat pendampingan kepada sekolah-sekolah agar pemanfaatan data benar-benar menjadi dasar dalam menyusun program pendidikan.
Perencanaan anggaran sekolah melalui ARKAS juga mulai disusun berdasarkan kebutuhan nyata yang terlihat dari data pendidikan, bukan sekadar rutinitas administrasi.
Perubahan cara berpikir ini berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Guru semakin terbiasa melakukan refleksi terhadap metode mengajar, sementara kepala sekolah mulai lebih aktif memanfaatkan data untuk menentukan arah kebijakan sekolah.
Hasilnya mulai terlihat. Kabupaten Takalar kini berhasil meraih peringkat pertama di Sulawesi Selatan dalam capaian SPM pendidikan dengan predikat Tuntas Madya.
Menurut Imran, capaian tersebut bukan hanya prestasi administratif, tetapi juga menunjukkan adanya perubahan nyata di sekolah.
“Kemampuan literasi dan numerasi siswa meningkat, lingkungan belajar menjadi lebih aman dan inklusif, dan guru semakin terbiasa mengevaluasi pembelajaran,” jelasnya.
Ia menilai keberhasilan ini menunjukkan bahwa reformasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan yang kompleks.
“Terkadang perubahan besar justru dimulai dari langkah sederhana, yaitu memastikan pemimpin sekolah memahami kondisi sekolahnya sendiri melalui data,” tambahnya.
Meski demikian, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi agar peningkatan mutu pendidikan di Takalar dapat terus berlanjut.
“Pendidikan bukan pekerjaan satu tahun. Ini proses panjang yang membutuhkan komitmen bersama,” tutup Imran.
(Difkah)












