TAKALAR,15menit.com- Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, mengungkap strategi jitu dalam mendongkrak capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan saat tampil sebagai keynote speaker dalam kegiatan On Air Pa’biritta yang digelar Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (20/4/2026).
Kegiatan yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi BBPMP Sulsel tersebut mengangkat tema “Praktik Baik Strategi Peningkatan SPM Pendidikan” dan menjadi ajang berbagi pengalaman keberhasilan daerah dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan.
Dalam pemaparannya, Daeng Manye menegaskan bahwa kunci utama peningkatan kualitas pendidikan terletak pada keberanian melakukan perubahan berbasis data. Ia menekankan pentingnya peran kepala sekolah sebagai pengambil keputusan utama di satuan pendidikan.
“Perubahan harus dimulai dari kepala sekolah. Mereka tidak boleh lagi hanya bergantung pada operator. Kepala sekolah harus memahami data sekolahnya sendiri dan menjadikannya dasar dalam mengambil keputusan,” tegasnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis data melalui Rapor Pendidikan menjadi fondasi dalam merancang program yang tepat sasaran. Ia bahkan menerapkan strategi “shock therapy” untuk mendorong percepatan perubahan di lapangan.
“Kita tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama. Harus ada keberanian untuk membongkar kelemahan secara terbuka, lalu diperbaiki secara sistematis. Fokus kita bukan administrasi, tapi dampak langsung ke siswa,” lanjutnya.
Daeng Manye menjelaskan, seluruh kebijakan pendidikan di Kabupaten Takalar kini disusun berdasarkan data yang terintegrasi dengan perencanaan anggaran, sehingga setiap program memiliki indikator capaian yang jelas dan terukur.
Selain itu, pemerintah daerah juga memperkuat sistem pembinaan melalui Dinas Pendidikan dan pengawas sekolah, dengan fokus pada peningkatan literasi, numerasi, serta penciptaan lingkungan belajar yang aman dan inklusif.
“Ini bukan sekadar program, tapi gerakan perubahan. Kita ingin sekolah menjadi ruang refleksi dan perbaikan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Takalar, Rifany, menyebut bahwa capaian SPM pendidikan merupakan hasil kerja konsisten seluruh pihak.
Ia mengungkapkan, indeks SPM pendidikan Takalar mengalami lonjakan signifikan, dari 16,64 pada 2025 menjadi kisaran 65,01 hingga 81,65 pada 2026. Capaian tersebut menggeser status Takalar dari kategori Tuntas Muda menjadi Tuntas Madya.
“Peningkatan ini bukan sesuatu yang instan, melainkan hasil dari upaya berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor,” jelas Rifany.
Berbagai strategi konkret turut dilakukan, mulai dari penguatan komitmen melalui perjanjian kinerja, intervensi Anak Tidak Sekolah (ATS) usia 7–18 tahun, hingga pelatihan guru dan pembentukan komunitas belajar di 10 kecamatan.
Selain itu, kolaborasi dengan berbagai instansi seperti Dukcapil, Dinas Sosial, dan PMD juga dilakukan dalam validasi data pendidikan.
Dalam aspek pembentukan karakter, Pemkab Takalar menggandeng aparat penegak hukum melalui program Polisi Masuk Sekolah dan Jaksa Masuk Sekolah guna menanamkan nilai anti perundungan dan anti korupsi sejak dini.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Kabupaten Takalar optimistis capaian pendidikan akan terus meningkat secara berkelanjutan.
“Keberhasilan ini bukan akhir, tetapi awal untuk terus bergerak maju dan menetapkan standar yang lebih tinggi,” pungkas Daeng Manye.
(Difkah)











