Proyek pembangunan Sekolah Rakyat yang menjadi salah satu program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto di Kabupaten Takalar kini menjadi sorotan publik setelah menelan dua korban jiwa. Dua bocah dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam di lubang septic tank yang berada di dalam area proyek konstruksi di Desa Pa’rappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, memunculkan dugaan kelalaian pengawasan dan penerapan standar keselamatan kerja.
15menit.com – Proyek pembangunan Sekolah Rakyat yang merupakan salah satu program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto kini menjadi sorotan publik setelah menelan dua korban jiwa di lokasi konstruksi yang berada di Desa Pa’rappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Dua bocah, Muhammad Alzaky (4) dan Muhammad Al Asril (5), dilaporkan meninggal dunia setelah ditemukan tenggelam di dalam lubang septic tank yang tergenang air di area proyek pembangunan Sekolah Rakyat tersebut. Peristiwa tragis itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan mengundang perhatian luas dari masyarakat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pihak pelaksana proyek pembangunan Sekolah Rakyat telah memberikan santunan kepada keluarga kedua korban. Namun demikian, pemberian santunan tersebut dinilai tidak menghapus pertanggungjawaban hukum apabila nantinya ditemukan adanya unsur kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa kedua anak tersebut.
Di tengah proses penyelidikan yang masih berlangsung, berbagai kalangan mulai mempertanyakan sistem pengawasan dan penerapan standar keselamatan di area proyek. Pasalnya, kedua korban ditemukan berada di dalam kawasan konstruksi yang seharusnya menjadi area terbatas dan tidak dapat diakses secara bebas oleh masyarakat umum, terlebih oleh anak-anak.
Sejumlah pihak menilai kematian dua bocah di dalam area proyek negara tersebut patut menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Dugaan kelalaian pengawas lapangan maupun pihak pelaksana proyek mulai mengemuka, mengingat lokasi galian yang memiliki potensi bahaya tinggi diduga tidak dilengkapi pengamanan yang memadai.
Sorotan publik semakin menguat karena proyek tersebut merupakan bagian dari Program Sekolah Rakyat yang menjadi salah satu program strategis pemerintah pusat. Karena itu, masyarakat berharap proses pembangunan tidak hanya mengejar target penyelesaian pekerjaan, tetapi juga memastikan seluruh aspek keselamatan dan keamanan lingkungan proyek berjalan sesuai standar.
Hingga saat ini, Satreskrim Polres Takalar masih melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap penyebab pasti kejadian tersebut. Publik berharap proses hukum dilakukan secara profesional, transparan, dan tidak berhenti hanya pada pemberian santunan kepada keluarga korban.
Kasus ini juga memunculkan tuntutan agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan keselamatan kerja pada proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Takalar. Masyarakat menilai tragedi yang merenggut dua nyawa anak-anak tersebut harus menjadi pelajaran penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Sebab, sebesar apa pun manfaat sebuah pembangunan, keselamatan jiwa manusia tetap harus menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan.
(*)










